Kembali ke Artikel
Hudan: Ketika Al-Qur’an Menjadi Jalan Hidup
Kajian

Hudan: Ketika Al-Qur’an Menjadi Jalan Hidup

N
Nur Alam
04 February 2026 9 dilihat

Al-Qur’an, tidak diturunkan untuk menjadi bacaan yang dingin dan berjarak. Ia hadir sebagai kehidupan itu sendiri, bukan sekadar memahami maknanya secara akademik.

Al-Qur’an, menurut Sayyid Qutb, tidak diturunkan untuk menjadi bacaan yang dingin dan berjarak. Ia hadir sebagai kehidupan itu sendiri. Dalam tafsirnya yang monumental, Fi Zilal al-Qur'an, Sayyid Qutb mengajak pembaca untuk hidup di bawah naungan Al-Qur’an, bukan sekadar memahami maknanya secara akademik.


Allah membuka Al-Qur’an dengan pernyataan yang sangat tegas:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)


Ketika Allah berfirman, “Hudan lil muttaqin” petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sayyid Qutb melihat bahwa hudā bukan informasi, melainkan cahaya yang bekerja di dalam jiwa. Ia tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi mendorong seseorang untuk berjalan. Karena itu, tidak semua orang yang membaca Al-Qur’an otomatis mendapat hudan. Hudan hanya masuk ke hati yang siap tunduk, bukan hati yang merasa cukup dengan dirinya sendiri.


Kita melihat satu kenyataan besar: manusia modern bukan tersesat karena kekurangan ilmu, tetapi karena menolak manhaj Allah. Banyak orang tahu kebenaran, namun enggan menjadikannya sebagai dasar hidup. Di titik inilah hudan menjadi sesuatu yang “berat”, karena ia menuntut perubahan, bukan sekadar persetujuan.


Hudan adalah manhaj hayah sistem hidup yang utuh. Ia mengatur cara berpikir, cara merasa, cara memandang dunia, bahkan cara memaknai penderitaan. Al-Qur’an tidak datang untuk berdamai dengan kebatilan, tetapi untuk memimpin kehidupan manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu, hidup di bawah hudan sering kali membuat seseorang merasa asing di tengah masyarakat yang menjadikan hawa nafsu dan standar manusia sebagai kiblat.


Namun keasingan itu justru melahirkan ketenangan. Bahwa hati yang disentuh hudan akan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan bahasa dunia: ketenangan karena kejelasan arah. Ia mungkin kehilangan banyak hal secara lahiriah, tetapi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga makna hidup. Hudan tidak menjanjikan kemudahan, tetapi menjanjikan kejelasan tentang untuk apa kita hidup dan ke mana kita akan kembali.


Yang menarik, Bahwa hudan sejatinya sejalan dengan fitrah manusia. Ia bukan beban asing yang dipaksakan dari luar, melainkan panggilan yang membangunkan sesuatu yang sudah ada di dalam jiwa. Itulah sebabnya, orang yang benar-benar menerima hudan tidak merasa tertekan, meskipun harus meninggalkan dosa dan kebiasaan lama. Ia justru merasa pulang kembali menjadi dirinya yang sejati sebagai hamba Allah.


Dalam konteks hari ini, ketika manusia hidup di tengah kebisingan digital, limpahan informasi, dan krisis makna, gagasan Sayyid Qutb terasa sangat relevan. Kita tidak kekurangan nasihat, tetapi kekurangan petunjuk yang dihidupi. Kita membaca banyak hal, tetapi jarang berhenti untuk membiarkan cahaya itu bekerja di dalam hati.


Di sinilah makna hudan.id menjadi sangat dalam. Ia bukan sekadar nama, tetapi sebuah doa dan arah: agar teknologi tidak hanya membuat manusia sibuk, melainkan sadar. Agar di tengah layar dan notifikasi, masih ada ruang sunyi untuk bertanya: “Apakah aku masih berjalan di atas petunjuk Allah?”


Hudan adalah anugerah terbesar. Barangsiapa mendapatkannya, ia mungkin tidak memiliki segalanya, tetapi ia tidak lagi tersesat. Dan bagi seorang hamba, tidak ada nikmat yang lebih besar daripada mengetahui bahwa langkah-langkah kecilnya sedang mengarah pulang menuju Allah.

Bagikan Artikel